Bukan tentang seberapa jauh saya pergi
Bukan tentang seberapa lama saya berusaha melupakan
Bukan juga tentang saya akan melupakannya
Bahkan , bukan tentang seberapa jahat dia meninggalkan saya
Semakin saya berusaha melupakannya
Semakin sering saya memikirkannya
Semakin saya berusaha membencinya
Ternyata , saya semakin menyayanginya
Di awal perkuliahan , rasanya sangat membosankan untuk mengikuti matrikulasi dan perkenalan dengan mahasiswa lain dan juga kaka tingkat . Bukan menutup diri , dyga hanya tidak ingin orang-orang baru yang nantinya akan menjadi teman nya ini , menyakitinya dan meninggalkannya lagi seperti masa-masa putih abu-abunya . Tapi dyga juga tidak ingin di asingkan oleh sekumpulan mahasiswa , karna di asingkan itu rasanya sakit , rasanya tidak ingin datang ke tempat dengan sekumpulan orang yang mengasingkan kita , rasanya lebih baik untuk tidak pernah datang .
"Hay, dyga" ucap dyga sambil memperkenalkan diri kepada perempuan yang memiliki rambut panjang yang indah terurai dan berawarna hitam lebat seperti iklan shampo
"Cary.." dibaca (Keri) Jawab perempuan itu , mereka pun saling bertukar senyum
Rasanya awal kuliah dan proses matrikulasi , dengan cepat terlaksana dan dyga sangat menikmati berada di kampusnya yang baru , meski teman yang ia miliki hanya bisa di hitung dengan jari .
Dyga membuka telfon genggamnya , berharap ia mendapatkan notifikasi dari ardyan meski ia tau itu hanyalah angan semu . Sudah hampir satu tahun ardyan tidak memberinya kabar.
Dyga tidak mempunyai alasan , untuk marah atas sikap ardyan , karna sekali lagi mereka tidak pernah memiliki hubungan , Dan harus dyga ingat kembali , disini dyga harus menyelesaikan study nya tanpa ardyan dan harapan-harapan tentang masalalunya .
dan ternyata, ini tidak semudah dengan apa yang ia bayangkan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar